Era globalisasi yang ditandai dengan era perdagangan bebas tidak bisa dihindari oleh bangsa manapun di muka bumi ini termasuk Indonesia

Era globalisasi yang ditandai dengan era perdagangan bebas tidak bisa dihindari oleh bangsa manapun di muka bumi ini termasuk Indonesia. Perkembangan dan persaingan bisnis yang tajam dalam dunia bisnis saat ini menyebabkan perubahan yang luar biasa dalam bidang pemasaaran, pengelolaan sumber daya manusia (SDM), penanganan transaksi pertukaran antara perusahaan dengan pelanggan maupun terhadap perusahaan lain, pemasok, pemegang saham, pemerintah, dan stakeholder lainnya. Perencanaan, kontrol dan pengambilan keputusan juga menyulitkan dalam dunia bisnis saat ini karena meningkatnya ketidakpastian lingkungan.
Kota Batam merupakan sebuah kota terbesar di Provinsi Kepulauan Riau. Kota Batam memiliki wilayah yang terdiri dari Pulau Batam, Pulau Rempang dan Pulau Galang dan pulau-pulau kecil lainnya di kawasan Selat Singapura dan Selat Malaka. Jumlah penduduk Batam mencapai 1.037.187 jiwa menurut data yang didapat dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Batam Per2015,. Batam juga dikenal dengan kota industri karena Kota Batam secara geografis mempunyai letak yang sangat strategis, yaitu di jalur pelayaran internasional. Kota Batam juga bergitu dekat dengan Negara Singapura dan Malaysia.
Data yang didapat dari (batampos.co.id) banyak perusahaan industri di Kota Batam mengalami kebangkrutan, Data dari Disnaker menyebutkan pada tahun 2015 54 perusahaan yang tutup, tahun 2016 sebanyak 67 perusahaan dan pada tahun 2017 sekitar 23 perusahaan. Maka sepanjang tahun 2015 – 2017 ada 144 perusahaan yang tutup. Banyaknya perusahaan yang tutup, tentunya menambah angka pengangguran di Kota Batam, Dinas Tenaga Kerja Kota Batam mencatat jumlah pengangguran mencapai 40 ribu orang. Menurut pengamat ekonomi Universitas Maritim Raja Ali Haji Rafki Rasyid (2017) , beberapa faktor penyebab menurunnya kinerja industri di Kota Batam adalah melemahnya kondisi ekonomi global akibat menurunnya harga minyak mentah dan harga barang tambang di dunia. Penyebab lainnya adalah insentif pajak dan kemudahan berinvestasi yang ditawarkan oleh negara tetangga seperti Vietnam dan Johor Bahru Malaysia, turut mengurangi jumlah investor ke Batam. Perusahaan tentunya lebih memilih negara yang kondusif untuk berinvestasi dan mengejar berbagai insentif investasi.
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mempunyai peranan strategis dalam pembangunan ekonomi nasional. UMKM sangat berperan dalam pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Selain itu, UMKM juga berperan dalam pendistribusian hasil-hasil pembangunan. Keberadaan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah bukan hanya dianggap sebagai tempat penampungan sementara bagi para pekerja yang belum masuk ke sektor formal, tetapi juga sebagai motor pertumbuhan aktivitas ekonomi. Hal ini dikarenakan jumlah penyerapan tenaga kerjanya yang demikian besar.
Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan definisi UMKM berdasarkan penggunaan jumlah tenaga kerja pada setiap unit usaha yaitu: (1) Usaha kecil merupakan unit usaha yang memiliki jumlah tenaga kerja lima sampai dengan 19 orang. (2) Usaha menengah merupakan unit usaha yang memiliki tenaga kerja 20 sampai dengan 99 orang.
Data yang didapat (depkop.go.id) jumlah Usaha Mikro, Kecil, Menengah di Indonesia terhitung tahun 2012 ialah sebanyak 56.534.592 dan pada tahun 2013 ialah 57.895.721 ini menunjukan Usaha Mikro, Kecil, Menengah di Indonesia cukup berkembang dan dalam satu tahun puluhan ribuan UMKM berdiri dan melakukan kegiatan usahanya, ini juga menunjukan bahwa persaingan usaha sangat ketat dan harus memiliki strategi yang kuat untuk bersaing.
Kegiatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu bidang usaha yang dapat berkembang dan konsisten dalam perekonomian nasional. UMKM menjadi salah satu wadah yang baik bagi penciptaan lapangan pekerjaan yang produktif. Jumlah data pengangguran menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2017 jumlah pengangguran di Indonesia sebanyak 7,01 juta. UMKM sangat cepat dalam menciptakan lapangan pekerjaan maka angkatan kerja yang tidak bisa terpenuhi dalam dunia kerja akan menjadi berkurang dengan adanya UMKM ini. Menurut Schiffer & Weder dalam Hermanto (2010) untuk membantu mengatasi masalah pengangguran, pengembangan industri berskala kecil ini akan sangat membantu memberikan lapangan pekerjaan dan kesempatan usaha yang pada akhirnya dapat mendorong pembangunan daerah dan kawasan pedesaan.
Salah satu agenda pembangunan ekonomi di Indonesia yaitu sektor UMKM dan itu telah terbukti kekuatan sektor UMKM pada tahun 1998, pada saat terjadinya krisis ekonomi 1998 sektor yang dapat bertahan hanya sektor UMKM sedangkan sektor yang lebih besar dapat tumbang pada saat krisis tersebut. Mudradjad Kuncoro (2008) mengungkapkan mengapa UMKM mampu bertahan dan bisa melewati krisis karena: pertama, UMKM tidak memiliki hutang ke luar negeri. Kedua, UMKM tidak banyak menggunakan dana atau hutang perbankan sehingga di anggap unbankable. Ketiga, menggunakan input lokal. Keempat, berorientasi ekspor.
Menurut (Zimmerer dan Scarborough) dalam Chistiana et al., (2014) seorang wirausahawan adalah seseorang yang menciptakan bisnis baru dengan mengambil resiko dan ketidakpastian demi mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi peluang yang signifikan dan menggabungkan sumber-sumber daya yang diperlukan untuk mendirikannya. Maka dari itu seorang wirausahawan harus mampu menciptakan peluangnya sendiri demi terciptanya suatu hal yang berharga dan dapat dipakai untuk bertahan hidup.
Menurut Ropke dikutip dari Suryana dan Bayu (2011) menyatakan bahwa kewirausahaan merupakan proses penciptaan sesuatu yang baru (kreasi baru) dan membuat sesuatu yang berbeda dari yang telah ada (inovasi), tujuannya adalah tercapainya kesejahteraan individu dan nilai tambah bagi masyarakat. Maka kehadiran kewirausahaan akan sangat memberikan pengaruh terhadap kemajuan perekonomian dan perbaikan keadaan ekonomi di Batam. Dengan adanya wirausaha ini akan dapat mampu menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, meningkatkan pemerataan pendapatan, memanfaatkan dan memobilitaskan sumberdaya untuk meningkatkan produktivitas ekonomi, serta meningkatkan kesejahteraan pemerintah. Surya dan Bayu (2011) Seorang wirausahawan yang berhasil ialah mereka yang mempunyai motif berprestasi tinggi (High n acr personal). Sifat khas motif berprestasi tinggi yaitu: (1) Mempunyai komitmen dan tanggung jawab terhadap pekerjaan, (2) Cenderung memilih tantangan, (3) selalu jeli melihat dan memanfaatkan peluang, (4) Objektif dalam setiap penilaian, (5) Selalu memerlukan umpan balik, (6) Selalu optimal dala, situasi kurang menguntungkan, (7) Berorientasi laba, dan (8) Mempunyai kemampuan mengelola secara proaktif. Meredith et al., dalam Dhamayantie et al., (2017) seseorang dapat berlaku seperti karakteristik kewirausahaan antara lain percaya diri, berorientasi tugas dan hasil, pengembilan resiko, kepemimpinan, keorisinilan, dan berorientasi masa depan, tetapi hanya orang yang bersifat wirausaha yang mempu bertindak menggunakan karakteristik tersebut dalam pekerjaannya.
Kaur dan Bains dalam Dhamayantie et al., (2017) kompetensi adalah sejumlah pengalaman, pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan selama hidup untuk keefektifan kinerja dalam tugas atau pekerjaan. Kompetensi usaha berdasarkan pada UU Ketenagakerjaan Nomer 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan 1(10) menyatakan bahwa ” Kompetensi usaha dalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan kemampuan kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan.” Kompetensi akan membedakan orang yang berprestasi baik yang biasa-biasa saja. Kompetensi dapat berupa motif, bakat atau sifat, konsepdiri, sikap atau nilai maupun pendirian, pengetahuan diri, atau keterampilan kognitif dalam perilaku. Menurut Wu dalam Dhamayantie et al., (2017) kompetensi merupakan seperangkat faktor-faktor keberhasilan yang berkontribusi untuk mecapai kinerja tinggi dan hasil nyata. Tanoira dan Valencia dalam Dhamayantie et al., (2017) mendukung bahwa kompetensi kewirausahaan dapat berkontribusi pada kinerja UMKM. Menurut temuan Sarwoko et al., dalam Dhamayanti (2017) mengidentifikasi jika pelaku usaha kecil memiliki karakteristik dan kompetensi kewirausahaan maka akan berdampak pada pencapaian kinerja usaha.
Perkembangan dunia usaha dan industri saat ini sedang kian pesat, terlihat dengan banyaknya para pengusaha baik mikro maupun makro dengan beragam usaha mereka yang menarik, dan sudah pasti akan menghasilkan laba untuk meningkatkan taraf hidup para pengusaha dan karyawan di usaha tersebut.
Jenis usaha yang sedang marak saat ini yakni usaha di sektor industri olahan makanan, faktanya dapat dilihat banyak outlet yang menjual makanan dengan berbagai rasa dan bahan dasar. Perkembangan industri ini meningkat disebabkan kebutuhan masyarakat akan makanan dan keinginan masyarakat untuk menikmati rasa-rasa yang berbeda yang ditawarkan oleh produsen pada makanan, dengan penampilan dan warna yang menarik serta harga yang terjangkau oleh masyarakat. Usaha bidang olahan makanan ini merupakan bisnis yang tidak pernah matinya/hentinya. Peluang akan selalu terbuka lebar bila kita jeli melihatnya. Usaha bidang olahan makanan selalu dibutuhkan orang tanpa melihat musiman ataupun lagi krisis karena makanan adalah kebutuhan pokok selain sandang dan papan.
Kota Batam memiliki 12 kecamatan, dari setiap kecamatan ini berbagai potensi dari segi UMKM apa saja dapat di bentuk dan dikembangkan, dalam penelitian ini peneliti memilih objek penelitian pada UMKM bidang makanan. Dan data yang didapat dari (Dinas Koperasi Usaha Mikro Kota Batam) jumlah UMKM bidang makanan di Kota Batam terhitung dari tahun 2008 hingga 2016 berjumlah 389 UMKM.
Dari penjelasan latar belakang di atas, maka diperlukan analisis ketidakpastian lingkungan dan karakteristik kewirausahaan terhadap kompetensi usaha agar mampu meningkatkan kinerja usaha dengan menghasilkan laba atau keuntungan yang ditargetkan oleh UMKM. Hal ini mendorong peneliti untuk melakukan penelitian pada UMKM. Ruang lingkup usaha yang akan di teliti ialah UMKM bidang makanan di Batam dikarenakan menurut survey yang telah dilakukan peneliti, cukup banyak usaha di bidang makanan yang berdiri terutama disekitar perumahan, mal atau tempat perbelanjaan. Berdasarkan latar belakang di atas dasar tersebut peneliti mengambil judul penelitian “Analisis Ketidakpastian Lingkungan dan Karakteristik Kewirausahaan Terhadap Kompetensi Usaha dan Kinerja Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Di Kota Batam”