BAB II TINJAUAN PUSTAKA Manajemen Persediaan Bahan Baku Pengertian manajemen persediaan bahan baku Manajemen ialah sebuah langkah yang dilakukan untuk mencapai sebuah tujuan dengan cara bekerja dalam team atau dalam sebuah organisasi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Manajemen Persediaan Bahan Baku
Pengertian manajemen persediaan bahan baku
Manajemen ialah sebuah langkah yang dilakukan untuk mencapai sebuah tujuan dengan cara bekerja dalam team atau dalam sebuah organisasi. Dalam penerapanya manajemen memiliki subyek dan obyek. Dimana subyek adalah yang mengatur dan obyek adalah yang diatur.

Persediaan adalah suatu istilah umum yang menunjukkan segala sesuatu yang disimpan untuk antisipasi terhadap pemenuhan suatu kebutuhan. Dalam perusahaan biasanya mengelompok persediaan menjadi tiga yaitu persedian bahan mentah, barang setengah jadi yang bertujuan untuk memperlancar produksi, sedangkan barang jadi yang merupakan hasil dari produksi dimaksudkan untuk memenuhi permintaan pasar.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Persediaan bahan baku menurut (Handoko,2000), merupakan sumber daya organisasi yang berupa material mentah untuk digunakan dalam proses produksinya.

Persediaan sebagai bagian utama dari modal kerja menurut (Riyanto,2001)adalah aktiva yang berputar yang secara terus menerus mengalami perubahan.

Kesimpulan dari beberapa definisi diatas bahwa persediaan adalah sejumlah bahan baku yang disediakan perusahaan, yang disimpan untuk pemenuhan kebutuhan produksi dan antisipasi kekurangan bahan baku untuk kelancaran produksi.Manajemen persediaan adalah suatu keputusan proses yang dibuat perusahaan untuk memastikan bahwa perusahaan bisa menyediakan persediaan bahan baku untuk produksi dengan mutu, jumlah dan waktu tertentu.

Fungsi Persediaan
Fungsi persediaan yang optimal merupakan salah satu faktor pendukung tercapainya efisiensi produksi suatu perusahaan. Fungsi-fungsi persediaan menurut (Assauri,1999) terdiri dari 3 macam yaitu :
Lot Size inventory yaitu persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat bahan-bahan/barang-barang dalam jumlah yang lebih besar daripada jumlah yang dibutuhkan saat itu. Jadi dalam hal ini pembelian atau pembuatan yang dilakukan untuk jumlah besar, sedang penggunaan atau pengeluaran dalam jumlah kecil. Terjadinya persediaan karena pengadaan bahan/barang yang dilakukan lebih banyak daripada yang dibutuhkan.

Fluctuation stock adalah persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan.

Anticipation stock yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diramalkan, berdasarkan pola musiman yang terdapat dalam satu tahun untuk menghadapi penggunaan atau penjualan permintaan yang meningkat.

Fungsi-fungsi persediaan menurut (Handoko,2000) dikelompokkan menjadi 3 yaitu :
Fungsi Decoupling
Fungsi penting persediaan adalah memungkinkan operas-operasi perusahaan internal dan eksternal mempunyai “kebebasan” (independence). Persediaan decoupling ini memungkinkan perusahaan dapat memenuhi permintaan langganan tanpa tergantung pada supplier.

Fungsi Economic Lot Sizing
Persediaan lot size ini perlu mempertimbangkan penghematan-penghematan (potongan pembelian, biaya pengangkutan per unit lebih murah dan sebagainya) karena perusahaan melakukan pembelian dalam kuantitas yang lebih besar, dibandingkan dengan biaya-biaya yang timbul karena besarnya persediaan (biaya sewa gudang, investasi, resiko dan sebagainya).

Fungsi antisipasi
Perusahaan sering menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diperkirakan berdasarkan pengalaman data-data masa lalu, yaitu permintaan musiman. Disamping itu, perusahaan juga sedikit menghadapi ketidakpastian jangka waktu pengiriman dan permintaan akan barang-barang selama persediaan
2.1.3 Tujuan Persediaan
Didalam persedian pastinya terdapat hal-hal yang perlu diketahui termasuk tujuan dari persediaan itu sendiri. Menurut pendapat (Anggarini,2007) yang mengutarakan bahwa tujuan kebijakan persediaan adalah untuk merencanakan tingkat optimal investasi persediaan, dan mempertahankan tingkat optimal tersebut melalui persediaan.

Menurut (Tampubolon,2004) mengatakan bahwa peran manajemen sangat penting untuk dapat menciptakan efisiensi biaya produksi, yang menyangkut :
Penentuan jumlah produksi
Penentuan harga persediaan
Sistem pencatatan persediaan dan
Kebijakan tentang kualitas persediaan.

Jenis Persediaan
Persediaan bahan mentah
Persediaan bahan mentah adalah persediaan bahan yang masih belum memuat elemen-elemen biaya didalam bahan tersebut. misal pada pabrik furniture maka bahan mentahnya masih kayu gelondongan, belum ada penanganan lebih lanjut yang dapat diposting menjadi biaya perusahaan
Persediaan komponen-komponen rakitan
Persediaan komponen-komponen rakitan ini sangat mudah dijumpai di industri elektronik dan otomotif. Setiap pabrik elektronik atau otomotif pasti memiliki pabrik perakitannya sendiri. Dalam sebuah pabrik perakitan tersebut ada bermacam-macam  persediaan komponen-komponen rakitan.

Persediaan bahan pembantu atau persediaan bahan penolong
Persediaan bahan penolong ini merupakan katalisator dari produksi bahan tersebut. jadi bahan tersebut bukan merupakan bagian atau komponen barang jadi namun bahan tersebut sangat diperlukan dalam produksi.
Persediaan dalam proses
Persediaan dalam proses atau biasa disebut persediaan setengah jadi merupakan persediaan yang merupakan keluaran dari tiap-tiap proses, namun masih belum sempurna dan masih harus dilakukan pengolahan lagi
Persediaan barang jadi
Persediaan barang jadi adalah barang yang sudah tidak memerlukan pengolahan lagi. Tinggal di pasarkan dan siap dijual, yang berarti bahan semua unsur biaya produksi sudah melekat di barang tersebut.

2.1.5 Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Persediaan
Secara umum besar-kecilnya inventory tergantung pada beberapan faktor :Lead time, yaitu lamanya masa tunggu material yang dipesan datang.

Frekuensi penggunaan bahan selama 1 periode, frekuensi pembelian yang tinggi menyebabkan jumlah inventory menjadi lebih kecil untuk 1 periode pembelian
Jumlah dana yang tersedia
Daya tahan material
Secara khusus faktor-faktor yang mempengaruhi persediaan adalah:
Bahan baku, dipengaruhi oleh : perkiraan produksi, sifat musiman produksi, dapat diandalkan pemasok, dan tingkat efisiensi penjadualan pembelian dan kegiatan produksi.

Barang dalam proses, dipengaruhi oleh: lamanya produksi yaitu waktu yang dibutuhkan sejak saat bahan baku masuk ke proses produksi sampai dengan saat penyelesaian barang jadi.

Barang jadi, persediaan ini sebenarnya merupakan masalah koordinasi produksi dan penjualan.

Biaya Persediaan
Menurut (Handoko,1999) dalam pembuatan setiap keputusan yang akan mempengaruhi jumlah persediaan. Ada 3 macam biaya yang berhubungan dengan inventory yaitu:
Biaya penyimpanan (holding cost atau carrying costs)
Artinya adalah biaya persediaan terdiri atas biaya-biaya yang bervariasi secara langsung dengan kuantitas persediaan. Yang termasuk biaya penyimpanan diantaranya adalah :Biaya fasilitas (termasuk biaya penerangan, pendingin ruangan)
Biaya asuransi persediaan
Biaya pajak persediaan
Biaya pencurian, pengrusakan, atau perampokan dan lain sebagainya
Biaya pemesanan atau pembelian (ordering costs atau procurement costs) Biaya-biaya ini termasuk didalam biaya yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
Pemrosesan pesanan dan ekspedisi
Biaya telepon
Pengeluaran surat menyurat
Biaya pengepakan dan penimbangan
Biaya pengiriman ke gudang dan lain sebagainya
Biaya penyiapan / manufacturing (setup cost)
Hal ini terjadi apabila bahan-bahan tidak dibeli, tetapi diproduksi sendiri (didalam pabrik) perusahaan, perusahaan tersebut menghadapi biaya penyiapan (setup cost) untuk memproduksi komponen tertentu. Adapun didalam biaya-biaya ini terdiri dari seperti berikut:
Biaya mesin-mesin menganggur
Biaya penyiapan tenaga kerja langsung
Biaya penjadwalan
Biaya ekspedisi dan lain sebagainya
Biaya kehabisan atau kekurangan bahan (shortage costs)
Maksudnya adalah biaya yang timbul apabila persediaan tidak mencukupi adanya permintaan bahan. Biaya-biaya yang termasuk biaya kekurangan bahan adalah dapat dijelaskan sebagai berikut :Kehilangan penjualan
Kehilangan pelanggan
Biaya pemesanan khusus
Biaya ekspedisi
Selisih harga
Terganggunya operasi
Tambahan pengeluaran kegiatan manajerial dan lain sebagainya
Faktor-Faktor Dalam Penerapan Manajemen Persediaan
Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam manajemen persediaan antara lain :Biaya
Ada beberapa unsur biaya yang perlu diperhatikan dalam manajemen persediaan, seperti ditulis oleh Freddy Rangkuti dalam manajemen persediaan
Biaya penyimpanan (holding cost atau carrying cost) yaitu terdiri atas biaya-biaya yang bervariasi secara langsung dengan kuantitas persediaan.

Biaya pemesanan (ordering cost)
Biaya penyiapan (set up cost) untuk penyiapan memproduksi komponen tertentu.

Biaya kehabisan atau kekurangan bahan (shortage cost) adalah biaya yang timbul apabila persediaan tidak mencukupi adanya permintaan bahan.

Sumber Daya Manusia (SDM)
Diperlukan sumber daya manusia manusia untuk penerapan manajemen persediaan yang bertanggung jawab atas keberlangsungan manajemen persediaan yang berpengaruh pada keberlanjutan proses produksi.

Pola Manajemen
Menurut (Ristono,2009) pada manajemen persediaan. Pola manajemen, merupakan cerminan dari kebijakan manajemen perusahaan yang direalisasikan pada kebijakan delivery, pencatatan biaya dan sebagainya.

Ada beberapa hal pola manajemen yang berkaitan dengan penerapan manajemen persediaan antara lain :Perhitungan data kebutuhan dimasa yang akan datang.

Penjadwalan produksi
Kebijakan menentukan stock dan buffer
Menentukan penjadwalan dalam pemesanan barang.

Koordinasi antar divisi.

Teknologi Pendukung
Peranan teknologi adalah suatu strategi dalam dunia industri. Teknologi pendukung digunakan untuk mendukung suatu system kerja yang menguntungkan penggunanya.Survei Dan Kajian Pasar
Dalam manajemen persediaan harus bekerjasama dengan pihak luar (pemasok/supplier). Hal ini berkaitan dengan kemampuan supplier dalam menyediakan barang saat order dilakukan.

Penelitian Terdahulu
Manajemen persediaan menjadi suatu faktor penting demi kelangsungan produksi dalam dunia industri dibidang manufaktur. Banyak penelitian yang sudah dilakukan untuk mencari solusi atau keputusan terbaik untuk permasalahan tersebut dengan menggunakan pendekatan sistem tertentu.
(Dewanti, 2006) Penelitian mengenai “Manajemen Persediaan Pada Perusahaan Baja Ringan Di Yogyakarta” Bahwa berdasarkan pengolahan data dan analisis bahwa perhitungan metode Economic Order Quantity yang dilakukan pada perusahaan baja ringan adalah
Perlunya proses pengendalian bahan baku harus dilakukan secara seefektif mungkin untuk meminimalisir terjadinya kesalahan, kekurangan dan penyelewengan.
Proses estimasi dan pemesanan kembali juga merupakan salah satu proses manajemen persediaan yang penting.

Proses penerimaan pemesanan dilakukan untuk mengontrol kualitas barang pesanan supplier.

(Sungkono dan Sulistiyowati, 2016) melakukan penelitian “Perencanaan Dan Pengendalian Bahan Baku Untuk Meningkatkan Efisiensi Produksi Dengan Metode Material Requirement Planning dan Analytical Hierarcy Process Di PT.XYZ”.Dari hasil analisis data disimpulkan bahwa pendekatan yang baik untuk masalah perancanaan dan pengendalian bahan baku untuk efisiensi dari tiga perbandingan metode yaitu EOQ, POQ dan LFL di PT.XYZ adalah POQ, karena dari perhitungan metode POQ didapatkan total biaya yang paling kecil.

(Kusuma, Widarno dan Sunarko,2017) didalam artikel yang dibuat mengenai “Penerapan Metode Economic Order Quantity Pada PT.Nindya Beton Salatiga”
Berdasarkan hasil perhitungan dari metode tradisional yang diterapkan perusahaan dan metode EOQ disimpulkan bahwa frekuensi bahan baku di PT.Nindya Beton Salatiga dengan menggunakan metode tradisional terjadi 12 kali dalam 1 tahun , sedangkan menggunakan EOQ terjadi 4 kali dalam 1 tahun dan itu memberikan informasi bahwa menggunakan metode tradisional (kebijakan perusahaan) kurang efektif dan efisien dibandingkan dengan menggunakan EOQ yang mampu menghemat biaya persediaan dalam melakukan pembelian bahan baku.

(Melpa Syari Kristiani Turnip dan Dwi Kartikasari, 2017) penelitian mengenai “Analisis Perbandingan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Methanol Antara Pendekatan Model Economic Order Quantity Dengan Just In Time Pada CV Mamabros Servindo Batam”.

Untuk mengetahui pengendalian persediaan yang optimal digunakan perusahaan dengan membandingkan antara kebijakan yang telah dijalankan perusahaan dengan dua metode persediaan yaitu EOQ dan JIT. Dengan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini observasi, dokumentasi dan wawancara. Dan hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem JIT memiliki tingkat efisiensi biaya yang lebih tinggi dibanding EOQ. Sistem JIT menghemat biaya sekitar 55% dan EOQ menghemat biaya sebesar 46% lebih efisien dari biaya persediaan berdasarkan kebijakan perusahaan.

Metode Pendekatan Perencanaan Dan Pengendalian Persediaan.

Economic Order Quantity (EOQ)
Setiap perusahaan selalu berusaha untuk menentukan policy penyediaan bahan dasar yang tepat, dalam arti tidak mengganggu proses produksi dan disamping itu biaya yang ditanggung tidak terlalu tinggi. Metode EOQ (Economic Order Quantity) diperlukan untuk itu. Menurut (Yamit, 1999) , EOQ (Economic Order Quantity) adalah jumlah pesanan yang dapat meminimumkan total biaya persediaan, pembelian yang optimal. Untuk mencari berapa total bahan yang tetap untuk dibeli dalam setiap kali pembelian untuk menutup kebutuhan selama satu periode.

Unsur – unsur yang mempengaruhi EOQ adalah :Biaya penyimpanan perunit
Biaya pemesanan tiap kali pesan
Kebutuhan bahan baku untuk suatu periode tertentu
Harga pembelian
Menurut (Supriyono,1999) perlu diperhatikan anggapan-anggapan yang mendasari perhitungan EOQ, antara lain :
Selama periode yang bersangkutan tingkat harga konstan, baik harga beli maupun biaya pemesanan dan penyimpanan
Selama saat akan diadakan pembelian selalu tersedia dana.

Pemakaian bahan relative stabil dari waktu ke waktu selama periode bersangkutan.

Bahan yang bersangkutan selalu tersedia dipasar setiap saat akan dilakukan pembelian.

Fasilitas penyimpanan selalu tersedia berapa kalipun pembelian dilakukan.

Bahan yang bersangkutan tidak mudah rusak dalam penyimpanan.

Tidak ada kehendak manajemen untuk berspekulasi.

701960314544Langkah-langkah menentukan EOQ :Dimana :EOQ= Jumlah pembelian optimal yang ekonomis
S= Biaya pemesanan(persiapan dan penyiapan mesin) perpesan
D= Permintaan yang diperkirakan per periode waktu
H= Biaya penyimpanan per unit per tahun
Biaya penyimpanan = 10% x harga beli per unit bahan baku.

Silver Meal
Silver meal adalah metode yang dikembangkan oleh Edward Silver dan Harlan Meal berdasarkan pada periode biaya.Teknik ini menggunakan pendekatan yang hamper sama dengan PPB (Part Periode Balancing). Kriteria dari teknik silver meal adalah bahwa lot size yang dipilih harus dapat meminimasi ongkos total perperiode. Kemudian periode yang berurutan diakumulasikan lot sampai jumlah carriying cost dan set up costDari lot tersebut dibagi dengan jumlah periode yang terlibat meningkat.

Langkah-langkah dalam perhitungan sebagai berikut :Menghitung biaya total untuk pemesanan periode waktu ke-1, menghitung pula biaya untuk pemesanan dua periode waktu pertama. Apabila biaya kedua ini lebih tinggi dari biaya pertama, maka disimpulkan pemesanan dilakukan untuk periode waktu pertama, tapi apabila sebaliknya maka melanjutkan ke perhitungan biaya total untuk pemesanan tiga periode waktu pertama.

Apabila masih ada periode waktu yang belum diperhitungkan, maka langkah 1 diulangi untuk periode waktu – periode waktu yang tersisa tersebut. para peneliti menyimpulkan bahwa metode ini lebih mendekati optimal. Ini adalah gejala umum dalam ilmu manajemen bahwa semakin baik suatu metode heuristic, semakin panjang dan mahal perhitungannya, namun tetap lebih sederhana dan murah dibandingkan dengan metode untuk mencari penyelesaian terbaik.
Rumusan umum yang dapat digunakan adalah

Hitung K(m), m = 1, 2, 3, …, m, dan hentikan hitungan jika K(m+1) > K(m)
Keterangan:
Dm = Permintaan pada periode ke-m (D1, D2, D3, …, Dm)
K(m) = Rata-rata per unit waktu
m = PeriodeA = Biaya order
h = Biaya simpan tiap unit per periode
Metode Penyeimbangan Sebagian Periode (Part Period Balancing) merupakan salah satu pendekatan dalam menentukan ukuran lot untuk suatu kebutuhan material yang tidak seragam, yang bertujuan memperkecil biaya total persediaan. Meskipun tidak menjamin diperolehnya biaya total yang minimum, metode ini memberikan pemecahan yang cukup baik. Seperti metode EOQ, metode ini berusaha untuk membuat biaya penyimpanan sama dengan biaya pemesanan. Namun, berbeda dengan metode EOQ, metode ini dapat menggunakan jumlah pesanan yang berbeda untuk setiap pesanan, yang dikarenakan jumlah permintaan setiap periodenya tidak sama. Ukuran lot dicari dengan menggunakan pendekatan sebagian periode ekonomis (Economic Part Period) yaitu dengan membagi biaya pemesanan (biaya set-up untuk kasus produksi) dengan biaya penyimpanan per unit per periode.

Kebutuhan diakumulasi periode demi periode sampai medekati nilai EPP. Akumulasi yang mendekati nilai EPP merupakan ukuran lot yang dapat memperkecil biaya persediaan.

Period Order Quantity (POQ)
Interval pemesanan ditentukan dengan suatu perhitungan yang didasarkan pada perhitungan EOQ, sehingga dapat digunakan pada permintaan yang berperiode diskrit. POQ ditentukan melalui rumus :268522158722
Dimana :POQ= Interval pemesanan
D= demand rata-rata per periode
S= biaya pesan
H= biaya penyimpanan / unit
Min Max
Min / Max metode persediaan pemesanan adalah mekanisme penataan ulang dasar yang telah diterapkan di banyak repetisi dan jenis lain dari perangkat lunak manajemen persediaan. The “Min” nilai merupakan tingkat saham yang memicu pemesanan ulang dan yang “Max” nilai merupakan tingkat saham baru yang ditargetkan mengikuti pemesanan ulang tersebut. Perbedaan antara Max dan Min sering diartikan sebagai EOQ (Economic Order Quantity). Dan sementara perencanaan persediaan Min / Max cukup metode kasar untuk persediaan pemesanan, pengaturan Min / Max dapat secara dinamis disesuaikan untuk menawarkan kinerja persediaan yang lebih baik.perspektif sejarah.

Metode Min / Max adalah salah satu metode inventori otomatis pengisian awal yang akan digunakan dalam perangkat lunak perusahaan yang didedikasikan untuk manajemen persediaan.Manfaat utama Min max adalah Kesederhanaan ekstrim implementasi.Metode ini melacak total tingkat saham saat ini, yang biasanya merupakan jumlah dari saham-on-tangan ditambah stok-on-order untuk setiap satu SKU. Bila total saham mencapai nilai Min, seorang pemesanan ulang dipicu. Kuantitas pemesanan ulang menargetkan nilai Max untuk tingkat saham baru total, maka kuantitas pemesanan ulang adalah perbedaan antara Max dan Min (yaitu Max dikurangi Min).Dalam bentuk aslinya, Min / Max pemesanan dianggap metode yang cukup statis pengendalian persediaan di mana nilai-nilai Min / Max jarang berubah, mungkin beberapa kali per tahun
Wagner-Whitin Algorithm
Menurut (Tersine,1994) Wagner-within merupakan metode yang digunakan untuk mendapatkan solusi optimal untuk menentukan masalah ukuran pemesanan dinamis deterministik. Dalam hal ini, mengharuskan semua permintaan pada tiap periode dapat dipenuhi. Wagner-Whitin Algorithm merupakan suatu pemograman yang dinamis (dynamic programming), dimana dapat menjelaskan atau memperlihatkan kebijakan yang tepat dalam mengatur pengeluaran.
Tahapan Pembuatan Rancangan yaitu :Menghitung total biaya sediaan awal menurut perusahaan.
Menghitung total biaya sediaan dengan menggunakan Metode Wagner- Whitin Algorithm, dimana metode tesebut menggunakan beberapa teorema untuk menyederhanakan perhitungan yang akan dijelaskan oleh tiga langkah berikut:
Menghitung biaya total untuk semua alternatif pemesanan selama horison perencanaanya (terdiri dari N periode perencanaan).

Mendefinisikan kemungkinan biaya terendah, dimana level inventori pada akhir periode adalah nol. Algoritma dimulai dengan , kemudian menghitung yang dipesan.

Menerjemahkan solusi optimum yang diperoleh dengan algoritma untuk kuantitas pemesanan. Setelah menemukan kuantitas optimum